**Ternak Ayam Jago Bangkok Thailand, Pemuda Ini Berhasil Untung Hingga Rp 30 Juta per Bulan
Pesawaran IndoRepublik coom,
Sebagai Kepala Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Sosok Sanjaya bukan hanya piawai dalam memimpin desa, tapi ia juga pandai melihat peluang rezeki.
Dirinya melihat banyak orang, khususnya masyarakat di desanya memelihara ayam Bangkok. Bahkan ada yang pesan (Impor,red) dari Thailand untuk sekedar hobi peliharaan maupun diadu diarena gelanggang, tapi belum banyak yang berternak.
Termotivasi, dirinya langsung memulai berternak ayam jago Bangkok “Pakoy” yang ia datangkan dari Thailand, yang kini dikenal di kalangan pecinta ayam kontes, sejak tahun 2019, yang pada saat itu tahun pandemi Covid-19.
Usai empat tahun beternak ayam jago Bangkok “Pakoy” sejak didirikan 2019 lalu, Sanjaya merekrut beberapa karyawan dari pemuda setempat.
Bahkan untuk usahanya itu, setiap bulannya dia bisa meraup untung hingga Rp 20 sampai 30 juta per bulannya.
“Harga per ekor ayam jago Pakoy bervariasi tergantung jenis dan kesempurnaan fisik ayam jago impor itu sendiri. Soal harga mulai dari harga Rp.500 sampai Rp.3 kita per ekornya. Kalau, sang pembeli datang sendiri ke Farm Erdogan (peternak,red) kami,”kata Sanjaya kepada awak media Siber.com saat bincang santai di kediamannya, Kamis (2/4/2026).
Tapi kalau konsumenya, sambung Sanjaya, pesanannya melalui online maupun WhatsApp, akan kita kirim sesuai alamat pembeli, tapi ya tambah ongkos kirimnya.
“Sebagian besar pembeli datang langsung ke kandang.Tapi ada juga yang pesan lewat WA, nanti kami kirim,” jelas dia.
Menurut Sanjaya, dalam sebulan peternakan ‘Farm Erdogan’ bisa menjual ayam Pakoy sebanyak 50 ekor, dengan sekali kirim hingga 10 ekor ayam berusia 6-7 bulan. Harga pun bervariasi, tergantung usia dan kualitas.
“Yang umur dua bulan bisa mulai Rp 500 ribu. Kalau yang sudah jadi, rawatan bagus, bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per ekor,” katanya.
Dari usaha ini, Sanjaya mengaku mampu meraih omzet dua puluh sampai tiga puluh juta rupiah per bulannya. Dengan penghasilan bersih di kisaran puluhan juta rupiah, setelah dikurangi biaya pakan dan gaji karyawan yang mengurus ratusan ayam setiap hari.
“Ayam-ayam tersebut, semuanya berjenis Pakoy. Semuanya ada di sini, mulai dari anakan berumur 1,2 bulan sampai 7,8 bulan bahkan ayam untuk kontes atau kolektor juga ada disini,”ungkap Sanjaya, yang juga merupakan seorang Kepala Desa Tanjung Rejo ini.
Dijelaskan Sanjaya, bahwa ayam Pakoy yang ia ternak memiliki ke istimewaan seperti postur tinggi, badan besar, tulang kuat, serta ciri khas sisik kaki unik seperti sisik beling, salak, hingga naga. Karakter inilah yang membuat Pakoy menjadi primadona di dunia ayam kontes.
Soal perawatan ayam Pakoy, lanjut Sanjaya, itu paling yang utama, seperti setiap pagi, ayam diberi puding racikan alami dari kurma, telur puyuh, pisang, hingga jangkrik. Sementara pakannya diracik sendiri dari jagung Madura, kacang hijau, beras merah, padi putih, hingga jagung hasil kebunnya sendiri.
“Tujuannya supaya stamina ayam tetap bagus, badannya stabil, nggak kegemukan. Jadi ayam benar-benar fit,”ungkapmya seraya mengatakan ayam Pakoy juga harus dimandikan menimal seminggu sekali, lalu di kepar selama 1,5 jam itu juga melihat cuaca.
Tak hanya melayani pembeli lokal, ayam-ayam dari kandang Sanjaya juga telah menembus pasar pulau Jawa, seperti Medan dan Surabaya menjadi tujuan pengiriman, selain wilayah Lampung seperti Way Kanan, Tulang Bawang, Mesuji, hingga Lampung Barat.
Meski disibukkan dengan ternak, Sanjaya tetap menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa Tanjung Rejo. Baginya, usaha itu bukan sekedar bisnis, tapi juga bukti bahwa hobi, jika ditekuni dengan serius, bisa menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
“Yang penting konsisten dan sabar. Dari hobi, ternyata bisa bantu ekonomi keluarga dan buka lapangan kerja,”pungkas. (Zainal/Suhai/

























