Palembang, Indo Republik.com – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan dunia kerja, RSI Indonesia School Palembang menghadirkan momen hangat yang mempertemukan kembali kesibukan orang tua dengan dunia anak-anak mereka. Melalui gelaran tahunan bertajuk Back to School Night dengan tema “Adventure Around the World”, sekolah ini berupaya menjembatani komunikasi keluarga melalui eksplorasi pendidikan yang inovatif, Sabtu (07/02/2026).
Kepala Sekolah RSI Indonesia School Palembang, Juliana Marito, SE., M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan waktu sore menjelang malam merupakan langkah strategis untuk mengakomodasi para orang tua, khususnya ayah, yang seringkali kehilangan momen melihat perkembangan anak karena tuntutan pekerjaan di pagi hari.
”Sengaja kita adakan dari sore menjelang malam, karena biasanya kan orang tua itu sibuk ya di pagi sampai siang itu bekerja. Jadi orang tua yang nggak pernah datang ke sekolah, apalagi bapak-bapak yang sibuk dengan pekerjaan, hari ini datang ke sekolah,” ujar Juliana di sela-sela acara.
Dalam kegiatan ini, suasana sekolah disulap menjadi peta dunia. Siswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi berperan sebagai pemandu wisata bagi orang tua mereka sendiri. Menggunakan bahasa Inggris, para siswa menjelaskan berbagai projek dan peta prestasi yang telah mereka kerjakan di dalam kelas.
Tema petualangan dunia diangkat bukan tanpa alasan. Juliana menyebutkan bahwa komunitas sekolah ini terdiri dari berbagai latar belakang kewarganegaraan, mulai dari Benua Australia, Amerika, Korea, hingga Thailand. Keberagaman ini dituangkan dalam bentuk bazar makanan dari berbagai benua seperti Asia, Eropa, dan Amerika.
”Jadi kita ambil tema ini sengaja dari berbagai benua. Bazar itu menyediakan makanan dari negara-negara itu untuk memperkenalkan dunia kepada siswa, khususnya negara-negara asal murid yang ada di sekolah kita,” tambahnya.
Lebih dari sekadar seremoni, Juliana menekankan bahwa misi utama acara ini adalah bonding atau penguatan ikatan emosional. Ia mengkritisi pandangan bahwa sekolah adalah tempat “menyulap” anak menjadi pintar secara instan hanya dengan membayar biaya pendidikan.
”Tujuannya, mereka bisa bonding sama orang tuanya. Kadang kalau sekolah tidak hadir di tengah-tengah, orang tua akan sibuk sendiri dan berpikir pokoknya saya bayar sekolah, anak saya disulap jadi pintar. Padahal, orang tua adalah guru yang terbaik bagi anak-anak,” tegasnya dengan humanis.
Menurut Juliana, sekolah ingin menjadi perekat hubungan tersebut. Ia meyakini bahwa pertumbuhan akademik siswa berbanding lurus dengan kualitas hubungan di rumah.
”Kalau relationship antara orang tua dan anak itu bagus, pasti nanti pertumbuhannya secara akademis pun itu akan improve. Jadi nggak akademisnya dulu, tapi dari hubungan yang bagus akan ada peningkatan dari anak,” jelasnya optimis.
Acara ini juga mendapat dukungan dari berbagai mitra strategis dan perusahaan milik orang tua murid, yang menunjukkan adanya sinergi komunitas yang kuat. Menutup pernyataannya, Juliana berharap melalui momen ini, orang tua bisa lebih peduli dan memahami dunia anak-anak mereka dengan lebih mendalam.
”Harapan kita ya orang tua bisa bonding-nya lebih dekat, peduli, dan mengerti anak-anak seperti apa. Ada hubungan baik yang kita bangun di sini,” pungkasnya. (Adi)

























